Kamis, 29 Desember 2011

Tindakan Berpola



Parson (dalam Poloma, 2004 : 173-174 mengembangkan pattern variables yang terkenal sebagai sarana untuk mengkategorikan tindakan atau untuk mengklasifikasikan tipe-tipe peranan dalam sistem sosial. Pattern variables terdiri dari lima buah skema yang dapat dilihat sebagai kerangka teoritis utama dalam analisis sistem sosial, yaitu :
1.      Affectife versus affective neutrality
Didalam suatu hubungan sosial seseorang bisa bertindak untuk pemuasan afeksi atau kebutuhan emosional atau bertindak tanpa unsure afeksi (netral).
Contoh affective : seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan pacarnya. Sudah tentu akan melibatkan perasaan diantara keduanya. Contoh affective neutrality : seorang pelajar yang kebetulan melihat pengemis di suatu pasar. Akan tetapi pelajar tersebut tidak memberinya uang karena yang terlintas dalam pikirannya adalah bahwa sudah ada yang mengasihi pengemis itu, sehingga pelajar tersebut tidak memberinya uang.

2.      Self  - orientation versus collective – orientation
Didalam hubungan yang hanya berorientasi pada dirinya, seseorang yang mengejar kepentingan pribadi, sedangkan dalam hubungan berorientasi kolektif, kepentingan tersebut sebelumya telah di dominasi oleh kelompok. Contoh self – orientation : dalam menentukan perguruan tinggi, seseorang memilih perguruan tinggi yang bersangkutan karena kepentingan dirinya sendiri atau cita – citanya dan bukan paksaan orang tua atau bahkan untuk menyenangkan pacarnya. Contoh collective – orientation : kaum pemiulik modal yang mendominasi kaum pekerja pada masyarakat kapitalis. Dimana kaum pemilik modal meminta keuntungan yang maksimal sehingga selalu melakukan eksploitasi terhadap kelompok pekerja. Dalam hubungannya, kelas-kelas tersebut saling berhadapan dan merupakan hubungan penghisapan (eksploitasi). Dengan kata lain terjadi dominasi kelompok kelas atas terhadap kelas bawah.

3.      Universalisme versus particularism
Didalam hubungan yang universalitas, para pelaku saling berhubungan menurut criteria yang dapat diterapkan kepada semua orang. Sedangkan dalam hubungan partikularistik digunakan ukuran- ukuran tertentu. Contoh universalisme : syarat mengikuti SNMPTN bagi siswa SMA dan SMA adalah harus lulus ujian nasional. Dimana hal tersebut berlaku secara umum dan di terapkan di seluruh Indonesia. Dengan demikian jika siswa tidak memenuhi syarat tersebut maka tidak dapat mengikuti SNMPTN. Contoh partikularistik : sebuah perusahaan yang membuka lowongan tetapi hanya untuk kelompok jenis kelamin tertentu saja.

4.      Quality versus performance
Didalam hubungan ini, variable quality menunjuk pada status karena kelahiran (ascribed status). Sedangkan performance berarti prestasi (achievement) atau apa yang telah dicapai oleh seseorang (achieved status). Contoh hubungan kualitas : anak seorang raja yang hanya diperbolehkan menikah dengan individu dari kalangan tertentu saja. Status yang diperoleh karena kelahiran sangat dipahami individu yang bersangkutan sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupannya seperti halnya dalam mencari pendamping hidup. Contoh hubungan performance : seorang mahasiswa yang menjalin persahabatan dengan semua teman-temannya baik yang kuliah atau tidak, tanpa memandang status atau kelas sosial yang berbeda.

5.      Specifity versus diffusness
Didalam hubungan yang spesifik, individu dalam berhubungan dengan individu lain dibatasi situasi. Sedangkan didalam hubungan diffuse, dimana seseorang yang karena bukan status tertentu terlibat dalam proses interaksi. Contoh hubungan spesifik : hubungan antara guru dengan murid di sekolah. Seorang guru berperan sebagai pendidik bagi siswanya hanya pada situasi tertentu saja misalnya ketika proses belajar – mengajar di dalam kelas saja. Akan tetapi ketika sudah bearada dilingkungan luar sekolah tidak berperan sebagai guru lagi. Missal mempunyai peran lain ketika ada di masyarakat seperti menjadi ketua RT atau bahkan Kepala Desa. Contoh hubungan diffuse : hubungan antara ibu dan anak. Ibu berperan sebaghai orang tua dari anak-anaknya pada segala situasi. Dengan kata lain meskipun seorang ibu sedang menjalankan pekerjannya atau berada diluar rumah, tetap menyandang status sebagai seorang ibu yang harus bisa menjalankan peran yang dimilikinya sebaik mungkin terhadap anak-anaknya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

luangkan waktumu sejenak untuk belajar ,, !! Blak Magik is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2008